2016/07/20

Sejarah Kabupaten Katingan

Katingan adalah nama salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di propinsi Kalimantan Tengah yang membentang dari Utara ke Selatan yang bersumber dari pegunungan Muller Swaner dan bermuara di laut Jawa dengan panjang sekitar 650 Km, yang dalam perkembangannya dijadikan nama Kabupaten Katingan.

Sejarah Kabupaten Katingan


Katingan pada masa kerajaan


Pada abad ke-14 wilayah Katingan merupakan salah satu wilayah jajahan Majapahit seperti yang disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365. Nama sungai Katingan diambil dari nama daerah yang terdapat di hulu sungai tersebut, yaitu daerah Katingan (Kasongan). Belakangan muncul daerah baru di hilir, yaitu Mendawai.

Menurut Hikayat Banjar, wilayah Kabupaten Katingan sudah termasuk ke dalam daerah kekuasaan kerajaan Banjar-Hindu (Negara Dipa) sejak pemerintahan Lambung Mangkurat dengan wilayah kekuasaannya perbatasan paling barat berada di Tanjung Puting. Wilayah ini ketika itu terdiri atas dua sakai (daerah), yaitu Mendawai dan Katingan yang masing-masing memiliki ketua daerah sendiri-sendiri yang disebut Menteri Sakai, kemudian pada abad ke-17 pada masa kekuasaan Sultan Banjar IV, Marhum Panembahan (Raja Maruhum), wilayah Mendawai-Katingan merupakan salah satu daerah yang diberikan kepada puteranya Pangeran Dipati Anta-Kasuma yang kemudian menjadi adipati/raja Kotawaringin menggantikan mertuanya Dipati Ngganding yang wilayah kekuasaannya meliputi bagian barat Kalimantan Tengah saat ini. Menurut Hikayat Banjar, pada masa itu Pelabuhan Mendawai merupakan tempat transit para pedagang Banjarmasin jika hendak pergi berlayar menuju negara Kesultanan Mataram di pulau Jawa.


Katingan pada masa kolonial


Menurut laporan Radermacher, kepala daerah Mendawai/Katingan pada tahun 1780 adalah Kyai Ingabei Suradi Raja. Kiai Ingabehi Suradiraja adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah berhasil membunuh dua orang pengikut Gusti Kasim dari daerah Negara tahun 1780, kemudia ia dilantik sebagai pembantu utama syahbandar di pelabuhan Tatas (Banjarmasin). Pada tanggal 13 Agustus 1787, wilayah Kabupaten Katingan sudah diserahkan Sultan Tahmidullah II kepada VOC Belanda, kemudian daerah ini berkembang menjadi sebuah Distrik.

Pada 2 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjarmasin menyerahkan landschap Mendawai (Katingan) kepada Hindia Belanda. Penguasa Mendawai dan Katingan selanjutnya adalah Djoeragan Kassim (1846), Abdolgani (1848), Djoeragan Djenoe (1850), Jaksa kiai Pangoeloe Sitia Maharaja (1851), Kiai Toeainkoe ​​Gembok (1859).

Selanjutnya Demang Anoem Tjakra Dalam atau dikenal sebagai Demang Anggen, dilantik oleh Gubernur Hindia Belanda pada tanggal 10 Januari 1895 dan mengepalai wilayah Mandawai (Districtshoofd van Mandawai, afdeeling Sampit, residentje Zuider en Oosterafdeeling van Borneo). Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.

Sejak jaman penjajahan Belanda sampai dengan sekitar tahun 1908-an di wilayah DAS Katingan sudah terdapat 10 (sepuluh) kampung yang lebih dikenal sebagai Lewu Pulu, yang terdiri dari :

  1. Lewu Mendawai
  2. Lewu Handiwung Poso
  3. Lewu Luwuk Penda Engkan
  4. Lewu Enyuh atau yang dikenal dengan Kasongan
  5. Lewu Tewang Baringin Tinggang
  6. Lewu Tewang Sanggalang
  7. Lewu Tewang Manyangen Tingang
  8. Lewu Tumbang Terusan Tambun
  9. Lewu Tewang Darayu Langit
  10. Lewu Oya Bawin Telok


Karena pesatnya perubahan dan pertumbuhan kampung-kampung tersebut, maka pemerintah Belanda menempatkan Kantor Pemerintahan yang disebut Onderdistrictshoofd yang berkedudukan di Kasongan.

Pada tahun 1930, Pemerintah Onderdistrictshoofd pertama di Kasongan dimekarkan menjadi 2 (dua) buah, yaitu : Onderdistrictshoofd Pagatan di Pagatan dan Onderdistrictshoofd Kasongan di Kasongan.
Sejak tahun 1944, wilayah Katingan bertambah menjadi 4 (empat) bagian Onderdistrictshoofd, yang terdiri dari :

  1. Onderdistrictshoofd Pagatan di Pagatan
  2. Onderdistrictshoofd Katingan Hilir di Kasongan
  3. Onderdistrictshoofd Tumbang Samba di Tumbang Samba
  4. Onderdistrictshoofd Tumbang Sanamang di Tumbang Sanamang



Katingan pada masa kemerdekaan


Pada tahun 1946, Pemerintahan Onderdistrictshoofd diubah namanya menjadi Kecamatan yang terdiri dari :

  1. Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan
  2. Kecamatan Katingan Hilir di Kasongan
  3. Kecamatan Katingan Tengah di Tumbang Samba
  4. Kecamatan Katingan Hulu di Tumbang Sanamang


Kala itu, wilayah Katingan termasuk propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan (sebelum terbentuknya propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah tahun 1957) dan berada dalam wilayah Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur sebelum dimekarkan menjadi Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat.

Pada tahun 1958 Kecamatan Katingan Hilir dengan ibukota Kasongan dimekarkan menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu kecamatan Katingan Hilir di Kasongan dan Kecamatan Tasik Payawan di Petak Bahandang
Tahun 1961, karena perkembangan di wilayah Katingan dibentuk Kewedanaan yang bernama Kewedanaan Sampit Timur, dengan wilayah kerjanya terdiri dari 3 (tiga) kecamatan yaitu kecamatan Katingan Kuala di Pagatan, Kecamatan Tasik Payawan di petak Bahandang, dan Kecamatan Katingan Hilir di Kasongan. Sedangkan Kecamatan Katingan Tengah dan Kecamatan Tumbang Sanamang pada saat itu termasuk Kewedanaan Sampit Timur di Kuala Kuayan.

Pada tahun 1962, pada tanggal 8 Januari 1962, dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor : 1/Pem.17-C-2-3, menyatakan bahwa terhitung tanggal 1 Januari 1962 wilayah Katingan ditingkatkan statusnya sebagai “daerah Persiapan Kabupaten Katingan” dengan ibukota Kasongan dan wilayahnya meliputi DAS Katingan.

Sekitar bulan Februari 1965 tejadi pemekaran kecamatan-kecamatan di wilayah Katingan, yaitu :

  1. Kecamatan Katingan Kuala dimekarkan menjadi Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan dan Kecamatan Kamipang di Baun Bango
  2. Kecamatan Katingan Hilir dimekarkan menjadi kecamatan Tasik Payawan di Petak Bahandang dan kecamatan Pulau Malan di Buntut Bali
  3. Kecamatan Katingan Tengah dimekarkan menjadi kecamatan Katingan Tengah di Tumbang Samba dan kecamatan Sanaman Mantikei di Tumbang Kaman
  4. Kecamatan Katingan Hulu dimekarkan menjadi kecamatan Katingan Hulu di Tumbang Sanamang dan kecamatan Marikit di Tumbang Hiran


Pada tanggal 24 April 1965, dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor : 6/Pem.290-C-4 menyatakan bahwa terhitung tanggal 1 Januari 1965 wilayah Katingan yang berstatus sebagai daerah persiapan Kabupaten diubah status atau namanya menjadi “Daerah Administratif Katingan” dengan ibukota Kasongan.

Pada tahun 1979, pemerintah Pembantu Bupati Kotawaringin Timur dibentuk sebagai perubahan nama dari Kabupaten Administratif Katingan berdasarkan :

  1. SK Menteri Dalam Negeri Nomor : 64 tahun 1979 tanggal 28 April 1979 tentang pembentukan wilayah kerja Pembantu Bupati Kapuas untuk Gunung Mas, Pembantu Bupati Kotawaringin Timur untuk wilayah Katingan dan Seruyan, Pembantu Bupati Barito Utara untuk Murung Raya dan Pembantu Bupati Barito Timur di Tamiang Layang.
  2. SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor : 148/KPTS/1979 tanggal 28 Juni 1979 tentang penghapusan status wilayah dan Kantor Daerah Tingkat II Administratif Gunung Mas, Katingan, Murung Raya, Barito Timur serta status wilayah dan Kantor Persiapan Daerah Tingkat II Seruyan.


Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor : 42 tahun 1996 Kecamatan Katingan Kuala dimekarkan menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu : Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan dan Kecamatan Mendawai di Mendawai. Sehingga Pembantu Bupati Kotawaringin Timur wilayah Katingan terdiri dari 11 (sebelas) kecamatan :

  1. Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan
  2. Kecamatan Mendawai di Mendawai
  3. Kecamatan Kamipang di Baun Bango
  4. Kecamatan Tasik Payawan di Petak Bahandang
  5. Kecamatan Katingan Hilir di Kasongan
  6. Kecamatan Tewang Sanggalang Garing di Pendahara
  7. Kecamatan Pulau Malan di Buntut Bali
  8. Kecamatan Katingan Tengah di Tumbang Samba
  9. Kecamatan Sanaman Mantikei di Tumbang Kaman
  10. Kecamatan Marikit di Tumbang Hiran
  11. Kecamatan Katingan Hulu di Tumbang Sanamang


Atas usul Pemerintah Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur (Kotim) dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) DPRD Tingkat II Kotim Nomor : 25/KPTS-DPRD/6/1997, tentang persetujuan peningkatan status Pembantu Bupati Kotim wilayah Katingan menjadi kabupaten definitif.
Sejak itu muncullah berbagai aspirasi dan desakan dari berbagai unsur masyarakat untuk memperjuangkan pembentukan Kabupaten Katingan, sehingga dibentuklah Badan Persiapan Pembentukan Kabupaten (BPPK) Katingan yang berkedudukan di Kasongan.


Pembentukan Kabupaten Katingan


Keinginan pembentukan Kabupaten Katingan yang tumbuh dari masyarakat tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Kotim dan disetujui oleh DPRD Kotim yang berdasarkan keputusan DPRD Kabupaten Kotim nomor : 13/KPTS-DPRD/6/2000 tanggal 6 Januari 2000 tentang persetujuan penetapan pemekaran kabupaten Kotim dan revisi nama serta pembagian wilayah kecamatan kemudian diteruskan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kalimantan Tengah dan dilanjutkan dengan Surat Gubernur Kalimantan Tengah Nomor : 135/1963/PEM tanggal 6 Agustus 1999 dan Nomor : 1356/II/PEM tanggal 31 Desember 1999.

Perjuangan tersebut dilanjutkan sehingga keluarlah Keputusan DPRD Propinsi Kalimantan Tengah Nomor 8 Tahun 2000 tanggal 31 Juli 2000 tentang penetapan Pemekaran Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Tengah, diteruskan oleh Gubernur Kalimantan Tengah kepada Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan Surat Nomor : 135/1172/PEM Tanggal 4 Desember 2000.

Sekitar bulan Januari 2001 Pembantu Bupati Kotim wilayah Katingan dibubarkan, namun perjuangan menuju Kabupaten tetap dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Kotim.

Atas desakan dan tuntutan semua unsur masyarakat dan dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah setempat, disusunlah Rancangan Undang-undang (RUU) pembentukan Kabupaten dan diajukan kepada DPR RI, dibahas dan puncaknya tanggal 10 April 2002 ditetapkan RUU nomor 5 Tahun 2002 Tanggal 10 April 2002 yang diundangkan dalam lembaran negara tahun 2002 Nomor : 18 yang diresmikan pada tanggal 2 Juli 2002 di Jakarta.

Pelaksanaan UU nomor : 5 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya, dan Kabupaten Barito Timur di Propinsi Kalimantan Tengah, ditandai dengan peresmian Kabupaten Katingan di Jakarta pada tanggal 2 Juli 2002. Pada tanggal 8 Juli 2002 pelantikan Pejabat Bupati Katingan di Palangka Raya oleh Gubernur Kalimantan Tengah atas nama Menteri Dalam Negeri; dan dilantiknya anggota DPRD Kabupaten Katingan periode pertama tanggal 21 Januari 2003 di Kasongan.

Pada tanggal 20 Juli 2002 acara peletakan dan penyerahan batu prasasti sekaligus upacara syukuran rakyat atas terbentuknya Kabupaten Katingan yang dilaksanakan di Kasongan. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Katingan.


Sumber :
  • Bappeda Kabupaten Katingan. 2007. "Lima Tahun Kabupaten Katingan"
Read more

2016/07/01

Mengenal Aksara Dayak Iban

Mungkin bagi sebagian masyarakat di Indonesia aksara Dayak Iban terdengar asing. Namun, aksara yang lahir di kalangan suku Dayak Iban di belahan Borneo (Kalimantan) yang masuk dalam wilayah Malaysia ini benar-benar ada, dan sangat pantas untuk diapresiasi.

Menurut legenda, suku Dayak Iban sejak dahulu kala telah memiliki aksara sendiri. Alkisah Renggi, nenek moyang mereka, melarikan diri dari banjir besar sambil membawa kulit kayu berisi aksara Iban. Namun lantaran terkena air, aksara yang tercatat pada kulit kayu itu kemudian hilang. Renggi lantas menelan kulit kayu itu konon sejak saat itulah lahir tradisi menuturkan beberapa cerita silsilah dan adat secara turun-temurun berdasarkan hafalan pada masyarakat suku Dayak Iban.

Kabar baiknya, sekarang orang Dayak Iban tidak lagi hanya sekedar bisa menuturkan beberapa cerita tradisi mereka, namun dapat juga menuliskannya aksaranya berkat temuan Dunging Anak Gunggu (1904-1985), sosok Iban jenius asal Serawak, Malaysia Timur, yang menciptakan aksara Dayak Iban pada tahun 1947. Berawal dari niat untuk melestarikan bahasa Iban melalui aksara, beliau lantas menciptakan 77 simbol yang mewakili bunyi-bunyi dalam bahasa Iban dan selanjutnya menyederhanakannya menjadi 59 simbol. Karena jasanya, aksara Dayak Iban tersebut dinamakan "Aksara Dunging".

Mengenal Aksara Dayak Iban


Dunging Anak Gunggu awalnya mengajarkan beberapa simbol itu kepada keponakannya. Beberapa orang lain dari sukunya hanya menaruh minat sedikit pada aksara ciptaannya. Pemerintah kolonial Inggris pernah memohon Dunging mengajarkan aksara itu pada orang-orang Iban melalui jalur pendidikan resmi. Tetapi, usaha ini berusia pendek saja lantaran beliau tak dapat menyepakati sebagian prasyarat dalam mengajarkan aksara ciptaannya. Pengajaran akhirnya tak berlanjut dan aksara Dayak Iban sempat "tenggelam" pada masa itu.

Kemunculan kembali aksara Dayak Iban di dunia barangkali dapat dikatakan berawal pada tahun 1981, ketika terbit kamus Iban-Inggris susunan Anthony Richards yang mengakui karya Dunging. Pada tahun 1990, Bagat Nunui, anak angkat Dunging, menghimpun berbagai hal mengenai aksara ini dalam sebuah buku yang tidak dipublikasikan. Pada tahun 2001, Yayasan Tun Jugah menerbitkan ensiklopedia Dayak Iban yang berisi info mengenai aksara buatan Dunging. Lalu sekarang Dr. Bromeley Philip, salah seorang cucu-keponakan Dunging, menggiatkan kembali pelestarian aksara Dayak Iban dengan menulis buku serta mengajar mata kuliah mengenai aksara tersebut.

Upaya pelestarian itu disambut baik oleh pemerintah Malaysia, sebagian besar aksara ciptaan Dunging kemudian diajarkan juga pada orang-orang non-Dayak Iban lewat universitas, sekolah-sekolah, dan beberapa komunitas berkaitan aksara. Hebatnya lagi, saat ini telah ada piranti lunak untuk menulis aksara Dayak Iban, yaitu Laser Iban.

Pengguna aksara Dayak Iban memang sebagian besar tinggal di wilayah Malaysia dan sebagian lagi di Indonesia. Jumlah keseluruhan suku Iban di Malaysia, Indonesia, serta Brunei adalah 700.000 jiwa, 15.000 jiwa ada di Indonesia. Namun, walau di Indonesia jumlah tidak sebanyak di wilayah negara tetangga, mestinya tidak mengurangi semangat untuk mempelajari aksara Dayak Iban. Mempunyai aksara saja telah jadikan suku Dayak Iban istimewa, lantaran tak semuanya suku Nusantara mempunyai aksara.

Kiranya semangat Dunging Anak Gunggu mengilhami kita semua. Tabe


Sumber :
  • http://komunitasubi.com/index.php/2014/09/17/aksara-dayak-iban/
Read more

2016/06/29

Menelusuri Jejak Suku Dayak Maanyan di Madagaskar

Madagaskar adalah sebuah pulau yang terletak berseberangan dengan pantai timur benua Afrika bagian selatan di Samudra Hindia dan merupakan pulau terbesar nomor empat di dunia.

Madagaskar diduga terpisah dari benua Afrika selama lebih dari 150 juta tahun. Namun ada pendapat lain - berdasarkan kemiripan struktur tanah - menduga bahwa Madagaskar merupakan pecahan benua Asia. Namun yang pasti, lokasinya yang terpencil dan terisolasi selama 2000 tahun membuat kebanyakan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup di sana unik dan tidak ditemukan di tempat lain di bumi.

Sekitar 75% spesies yang ada di Madagaskar bersifat endemik, artinya tidak hidup di tempat lain di bumi. Pulau ini merupakan rumah bagi binatang-binatang langka termasuk lemur, tenrec (sejenis landak berduri), bunglon berwarna terang, puma-sejenis mamalia, dan jenis-jenis binatang lainnya.


Menelusuri Jejak Suku Dayak Maanyan di Madagaskar


Etnis Malagasi yang saat ini mendiami Madagaskar ternyata datang dari rahim 30 wanita yang terdampar di daerah itu 1.200 tahun yang lalu. Diantara 30 wanita itu, 28 wanita di antaranya berasal dari Indonesia (Kalimantan).

Penelitian genetika terdahulu secara mengejutkan menunjukkan, alih-alih datang dari Afrika, nenek moyang penduduk yang tinggal di pesisir timur Afrika itu justeru datang dari Pulau Kalimantan, pulau yang berjarak seperempat dunia, atau kurang lebih 5.600 kilometer.

Murray Cox, peneliti genetika dari Massey University, Selandia Baru, tertarik dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa darah suku Dayak mengalir di tubuh penduduk Madagaskar. Disebutkan bahwa satu milenium yang lampau sekelompok etnis pribumi Kalimantan berlayar menggunakan perahu mengarungi Samudra Hindia. Kencangnya ombak di perairan luas ini mendorong perahu hingga terdampar di Madagaskar yang tidak berpenghuni.

Kelompok yang terdampar itu selanjutnya membuka lahan di dataran tinggi untuk dijadikan pemukiman dan tempat bercocok tanam. “Kami bicara tentang satu budaya yang berpindah tempat melintasi Samudera Hindia, " tuturnya pada LiveScience.

Tidak hanya soal DNA, ada aspek lain yang membuktikan kontribusi Kalimantan, yaitu bahasa. Dari sisi linguistik, penduduk Madagaskar bicara dalam bahasa, yang asal-usulnya dapat dilacak hingga ke Barito, Kalimantan.

Tiga suku yang berdiam di dataran tinggi Madagaskar, yakni Merina, Sihanaka, dan Betsileo masih berkomunikasi menggunakan bahasa yang mirip dengan sebagian besar leksikon bahasa Maanyan, bahasa yang dipraktekan sehari-hari oleh masyarakat suku Dayak Maanyan yang bermukim di sepanjang Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Juga ditemukan segelintir bahasa yang akarnya dari Jawa, Melayu, atau Sansekerta.

Pertanyaan yang masih tersisa di benak peneliti ini yaitu seperti apa kontribusi genetik pemukim pertama ini pada penduduk Madagaskar saat ini. Untuk mengetahuinya, mereka kemudian mempelajari gen yang didapat dari mitokondria 300 penduduk Madagaskar dan 3.000 penduduk Indonesia.

Pemilihan mitokondria dikarenakan dapur respirasi sel ini menyimpan gen yang diturunkan oleh ibu. Sampel gen menunjukkan kemiripan pada genom orang Indonesia dan Madagaskar.

Selanjutnya untuk mengetahui kapan dan bagaimana etnis dari Indonesia bisa sampai di pulau tersebut, digunakanlah sebuah simulasi komputer untuk menelusuri silsilah genetik manusia Madagaskar yang hidup saat ini ke masa lalu.

Hasilnya menunjukkan bahwa penduduk Madagaskar saat ini berkaitan dengan 30 orang wanita. Para wanita ini diperkirakan merupakan pemukim yang pertama di Madagaskar lebih kurang 1.200 tahun lalu, yang terdiri dari 28 orang wanita dari Indonesia sedangkan 2 orang sisanya dari Afrika.

Dari penelitian lain diketahui kromosom Y yang diturunkan dari ayah menunjukan bahwa pemukim pria pertama Madagaskar juga berasal dari Indonesia. Namun tidak diketahui berapa banyak jumlah mereka.

Berdasarkan fakta bahwa pria dan wanita penduduk Madagaskar datang dari Indonesia, Cox memperkirakan jumlah pria pertama di pulau ini relatif sedikit.

Dari hasil penelitian ini, Cox meyakini populasi etnis Dayak yang terdampar berkembang dengan pesat dan segera menguasai pulau. Diprediksikan kelompok besar telah terbentuk dalam berapa generasi saja.

Pertanyaan yang belum terjawab yaitu mengapa pemukim pertama ini bisa tiba di Madagaskar. Ada kemungkinan mereka terdampar di Madagaskar tanpa disengaja.

Skenario yang mungkin saja terjadi adalah, ada sekelompok etnis Dayak berlayar dengan perahu besar yang mampu menampung 500 orang. Kemudian di tengah perjalanan di samudera yang luas, kapal yang mereka tumpangi terbalik dan terdorong arus laut ke arah barat.

"Beberapa orang menyelamatkan diri menggunakan perahu cadangan," katanya.

Penumpang yang selamat inilah yang kemudian terdampar di Madagaskar dan kemudian mendirikan permukiman pertama di pulau tersebut.


Sumber :
  • Journal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 21 Maret 2012. (umi/vivanewss/LiveScience/Physorg)
  • https://m.tempo.co/read/news/2012/03/26/095392440/ada-darah-dayak-di-madagaskar
Read more

2016/06/11

Betang Toyoi, Etalase Pluralisme Suku Dayak

Betang Toyoi terletak di Desa Tumbang Malahoi, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah sekitar 6-8 jam perjalanan darat dari kota Palangka Raya Kalimantan Tengah dengan kondisi jalan yang ekstrim untuk dilalui oleh kendaraan minibus biasa.

Betang Toyoi, Etalase Pluralisme Suku Dayak
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Diperkirakan mulai dibangun tahun 1817-1896 oleh salah seorang keturunan Bungai dan Burow, yaitu Toyoi Panji, nama Toyoi sendiri kemudian diabadikan sebagai nama betang untuk menghormati sang pendiri.

Baca juga : Riwayat Desa Tumbang Malahoi

Hampir seluruh bagunan betang ini berbahan dasar kayu Ulin, mulai dari tiang utama, lantai dan dinding bahkan atap pun dibuat dari kayu ulin yang kesemuanya sudah berusia ratusan tahun dan masih utuh hanya beberapa bagian saja yang keropos dan berjamur dimakan usia. Tanpa paku, hanya pasak dan simpul untuk mengikat dan menyambung kayu-kayu tersebut menjadikannya suatu bangunan yang kokoh.

Terdapat seni pahat pada bilah atap di atas pintu utama berupa ukiran manusia berdiri di atas matahari memegang daun bunga dan di sekitarnya terdapat burung Enggang serta Balanga yang dikenal sebagai "Ukir Batang Kayu Nyangen Tingang Banyamei Rumbak Tambarirangan Bintang Patendu Batang Sawang Ngandang Sapatahu Sangkanak Kameluh Tuntang Haramaung".

Baca juga :


Etalase Pluralisme Suku Dayak


Bagi suku Dayak, Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan masyarakat Dayak. Kehidupan komunal dalam satu Betang telah membentuk kebersamaan antar individu dalam rumah tangga dan masyarakat tanpa melihat perbedaan. Kebersamaan ini tercermin dalam kebiasaan sehari-hari dalam hal berbagi makanan, berbagi suka-duka, saling melindungi maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang (handep). Konsep kebersamaan dalam satu Betang ini kemudian dikenal sebagai Budaya Rumah Betang.

Budaya Rumah Betang merupakan cerminan kebersamaan dalam kehidupan keseharian orang Dayak. Nilai paling utama yang menonjol dalam kehidupan di Betang adalah nilai kebersamaan warga yang menghuninya, terlepas dari keragaman dan perbedaan yang mereka miliki, baik perbedaan status sosial, juga dalam hal agama dan kepercayaan yang diimani. Demikian halnya keluarga penghuni Betang Toyoi, dari dua keluarga yang menghuni, mereka ada yang menganut agama Kristen, Kaharingan dan Islam, namun satu sama lain hidup rukun dan harmonis meski berbeda keyakinan.

Mungkin tidak semua warga suku Dayak mengetahui apa itu pluralisme, namun prakteknya telah diterapkan turun temurun dimulai oleh para leluhur sejak jaman dahulu. Dan Betang Toyoi adalah salah satu etalase pluralismenya suku Dayak di Kalimantan Tengah yang dapat dilihat oleh dunia luar, yang merupakan cerminan keseharian kehidupan masyarakat suku Dayak yang hidup rukun dalam keberagaman keyakinan.

Masyarakat suku Dayak tidak pernah dipusingkan oleh halal-haramnya suatu makanan. Rasa hormat yang begitu tinggi kepada kerabat - yang karena keyakinannya tidak boleh mengkonsumsi bahan makanan tertentu - tercermin dengan penggunaan peralatan makan berbeda (khusus) jika suatu saat kerabat yang lain ingin makan dengan menu yang haram bagi kerabat lainnya. Demikian halnya ketika berniat memotong ayam, maka kerabat yang Muslim dipersilakan untuk menyembelih ayam tersebut agar bisa dimakan bersama.

Sementara itu pemandangan berbeda dapat kita saksikan terutama di kota besar seperti Jakarta kontestasi ideologi dan agama marak terjadi hingga tak jarang menimbulkan kekerasan dan penindasan atas nama agama dan kelompok mayoritas untuk menghambat ideologi dan agama yang berseberangan, ada baiknya para penggiat intoleransi negeri ini menyempatkan diri berkunjung ke Etalase Pluralisme Suku Dayak di atas, untuk bercermin dari masyarakat Dayak dan budaya Betang yang masih dipertahankan hingga sekarang, bahwa Dayak adalah suku yang toleran terhadap perbedaan, menghargai perbedaan prinsip, etnik, latar belakang sosial bahkan agama.

Perbedaan adalah sebuah anugerah yang dikaruniakan Tuhan pada manusia, akan lebih baik jika kita saling berkontestasi secara sehat dan alami tanpa harus memupuk pemikiran salah dalam ruang pikir kita bahwa ideologi atau agama orang lain adalah salah dan harus dihentikan.

Tabe.


Sumber :
  • http://sejarahkalimantantengah.blogspot.co.id/2012/06/betang-tumbang-malahoi.html
  • http://icrp-online.org/2013/06/10/betang-toyoi-simbol-toleransi-beragama-warisan-budaya-dan-realita/
  • http://assets.kompas.com/data/photo/2013/12/16/1337223betang-2780x390.jpg
Read more

Riwayat Desa Tumbang Malahoi

Desa Tumbang Malahoi adalah salah satu desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Menurut cerita masyarakat setempat, penduduk Tumbang Malahoi berasal dari daerah Pekang Sambon (sekarang wilayah yang menjadi bagian dari Kalimantan Barat), tepatnya di daerah aliran sungai (DAS) Malahoi/Malawi.

Orang yang pertama mencari tempat hidup baru ke arah Kalimantan Tengah saat itu, – di Bukit Riwut di antara Sungai Samba dan Sungai Manuhing - adalah Ongko Langi. Di Bukit Riwut itu Ongko Langi beserta beberapa anggota keluarganya hidup beberapa saat. Di dalam keluarga mereka lalu terdapat seorang perempuan cantik yang diberi perhatian khusus menjadi bawi kuwu (perempuan yang dipingit). Nama perempuan itu adalah Nyai Mulung yang kemudian kawin dengan salah seorang pemuda dari Kayangan (Pantai Sangiang) bernama Umban Bulau. Bukti bahwa Nyai Mulung pernah menjadi bawi kuwu, adalah adanya ukiran di depan pintu kamar perempuan yang kini disimpan di betang yang bernama Betang Toyoi di Tumbang Malahoi.

Dari perkawinan Nyai Mulung dan Umban Bulau itulah lahir keturunan yang bernama Aluh Lakar (perempuan), Patan (laki-laki), Pantan (laki-laki), dan Tanggalung atau Timah (perempuan). Sebagian keturunan pasangan tersebut ada yang pindah, sebagian ada pula yang menetap di daerah Sungai Sampaga, Katingan, Rungan, serta Kahayan.

Salah satu keturunannnya adalah pasangan Bungai dan Burow. Mereka ini menetap di Sange. Nama tempat tinggal itu masih ada sampai sekarang, yaitu di bagian selatan Desa Tumbang Malahoi. Setelah beberapa kali pindah tempat hidup, salah satu keluarga dari keturunan Bungai dan Burow bernama Bira Dandan merasa perlu mencari petunjuk agar memperoleh tempat tinggal yang pantas dan membuat mereka tentram selama-lamanya. Cara yang ditempuh oleh Bira Dandan itu adalah dengan cara manajah antang (meminta petunjuk) dari Yang Maha Kuasa. Dengan manajah antang itu ditetapkan lokasi di pinggiran Sungai Baringei (nama sungai yang melintas di Desa Tumbang Malahoi sekarang). Nama "Malahoi" diambil dari nama daerah asal mereka, yaitu Malahoi di Kalimantan Barat sekarang. Selain tetap mengambil nama daerah, ikut pula diambil segumpal tanah dan air agar kelak mereka hidup seperti di daerah asalnya.


Betang Toyoi


Setelah mendapat lokasi bermukim yang dianggap menjanjikan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan, salah satu dari keturunan asal Malahoi di daerah Kalimantan Barat yang bernama Toyoi, mengkoordinir anak menantunya untuk mengumpulkan bahan bangunan untuk mulai membangun rumah betang. Diperlukan waktu sekitar tiga tahun untuk mengumpulkan bahan bangunan. Pendirian betang dilakukan secara gotong royong oleh beberapa keluarga dari daerah Rungan, Manuhing, dan daerah-daerah lainnya.


Betang Toyoi - Riwayat Desa Tumbang Malahoi


Rumah Betang yang didirikan sekitar tahun 1869 tersebut dikenal sebagai "Betang Toyoi", dinamakan demikian sebagai penghormatan kepada Toyoi yang mendirikannya. Toyoi kemudian di-tiwahkan tahun 1948. Tiwah adalah prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang disebut sandung.


Menjadi Basis Perjuangan Sejak Era Perang Banjar


Ada kisah heroik yang seringkali disebut-sebut sebagai Kisah Perjuangan Bungai. Alkisah, Bungai yang merupakan tokoh berpengaruh di Desa Tumbang Malahoi pada masa itu diangkat oleh Raja Banjar yang bernama Sultan Mochammad Seman sebagai pemimpin perjuangan di wilayahnya untuk melawan pemerintah kolonial Belanda.

Bungai diberi gelar Tamanggung Singa Pati oleh Sultan Mochammad Seman. Pemberian gelar kepada Bungai itu ditandai dengan sebuah bendera berwarna kuning yang menjadi panji perang melawan Belanda di bawah kepemimpinan Bungai. Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, maka nama Sungai Beringei yang melintasi Desa Tumbang Malahoi, disebut "BatangDanum Riak Jamban Raja". Artinya, sungai yang pernah dilalui oleh orang bangsawan.

Setelah Bungai memperoleh kepercayaan untuk memimpin peperangan melawan Belanda dari Raja Banjar, maka kedua tokoh itu bersama-sama terlibat perang di daerah Pelaihari (Tabangian), Sungai Saluang (Banjar), dan Kayu Tangi (Martapura).

Perjuangan Bungai yang bergelar Tamanggung Singa Pati kemudian diteruskan oleh generasi Tumbang Malahoi berikutnya. Pasca-kemerdekaan, Masyarakat Desa Tumbang Malahoi juga aktif berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Awal Maret 1946 datang pasukan dari Tuban pulau Jawa ke Tewah yang dipimpin oleh Tuwai Umar, bersama dengan Hasan basri, Amat dan Abu Bakar. Mereka membawa berita bahwa Kapten Mulyono pimpinan pasukan 003/K3 MN-1001 dari Penjelidik Militer Chusus (PMC) telah datang ke Kalimantan dengan tujuan melawan NICA. Pada tanggal 16 Maret 1946 Rombongan ini berangkat ke Tewah menuju Batu Nyiwuh, melewati desa Tumbang Malahoi. Ketika itu seluruh tokoh masyarakat dari desa-desa yang ada di daerah sungai Rungan/Manuhing sepakat mendukung perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI dan mengusir penjajah Belanda dari Bumi Nusantara, termasuk Kalimantan.

Ide mencari jalan keluar untuk menghadapi penjajahan Belanda itu disampaikan oleh Diter Merang. Ia mengusulkan agar perundingan dilakukan di betang di Tumbang Malahoi. Hal tersebut diterima oleh kepala betang waktu itu, yaitu Panyat Bin Toyoi. Masyarakat Tumbang Malahoi pun memberi kesempatan seluas mungkin untuk berunding dan menyusun berbagai bentuk kegiatan.

Dari hasil perundingan tokoh masyarakat dan para pejuang Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia (GRRI) yang dibentuk pada 21 Juli 1946, diputuskan untuk melakukan ritual manajah antang (meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa). Hasil manajah antang perjuangan GRRI, termasuk Rungan/Manuhing, adalah Indonesia pasti bebas dari belenggu penjajahan Belanda. Namun syaratnya, adalah harus manggantung sahur sebagai tanda memohon bantuan kepada Sang Pencipta dan para leluhur.

Sasaran perjuangan GRRI Rungan/Manuhing yang bermarkas di Desa Tumbang Malahoi, adalah markas pertahanan Belanda di Danau Mare, Tumbang Samba. Selain melakukan manajah antang, para tokoh masyarakat Rungan/Manuhing juga berperan dalam menyusun komposisi pasukan GRRI. Komposisi para pejuang GRRI itu dinamai Pasukan Ujan Panas yang terdiri dari 46 personil utama, termasuk Samudin Aman sebagai komandan kala itu.

Untuk mengenang kisah perjuangan tersebut, maka pada tanggal 28 Desember 1949, didirikanlah Tugu Kedaulatan. Tugu itu pertama kali dibangun dengan kayu ulin. Kemudian dibangun kembali dengan beton bertuliskan "Basis Perjuangan Gerilya Merebut/Mempertahankan Kemerdekaan RI Tahun 1945 s.d. 1949 di Tumbang Malahoi",


Tugu Kedaulatan - Riwayat Desa Tumbang Malahoi



Sumber :
  • http://bpan.aman.or.id/2016/03/07/cerita-tentang-tumbang-malahoi-dua/
  • http://suarapakat.blogspot.co.id/2014/03/grri-gerakan-revolusi-rakyat-indonesia.html

Read more

2016/05/25

Legenda Asal Mula Burung Elang Suku Dayak Ngaju

Alkisah pada suatu hari Raja Sangiang merasa badannya kurang sehat. Karena itu ia lalu menyuruh anaknya Rangkang Karangan memanggil dua orang tabib terkenal yang bernama Mangku Amat Jaya Sangen dan Nyai Jaya Sangiang yang tinggal di Batu Nindan Tarung.

Setibanya di Batu Nindan Tarung, Rangkang Karangan disambut oleh Nyai Jaya Sangiang diiringi pertanyaan tentang maksud kedatangan Rangkang Karangan ke kediaman mereka.

"Saya diutus oleh ayahanda Raja Sangiang menjemput kalian untuk mengobati beliau yang sedang dalam keadaan tidak sehat," kata Rangkang Karangan

"Ayahmu tidak apa-apa. Beliau sudah sembuh," sahut Nyai Jaya Sangiang.

"Bagaimana mungkin Nyai?" kata Rangkang Karangan, "Ayahanda masih dalam keadaan sakit ketika aku berangkat. Marilah ikut bersamaku untuk mengobati ayahandaku" lanjutnya.

Sekali lagi Nyai Jaya Sangiang menegaskan bahwa ayahnya, Raja Sangiang telah sembuh, namun Rangkang tetap bersikeras meminta Nyai Jaya Sangiang ikut bersamanya untuk menyembuhkan ayahnya.

Nyai Jaya Sangiang tetap menolak untuk pergi bersama Rangkang Karangan karena menurutnya ayah Rangkang telah sembuh. Untuk menyakinkan Rangkang, Nyai Jaya Sangiang memberinya dua buah kipas sambil berpesan jika ayahnya masih sakit maka ia harus mengipasi ayahnya dengan kedua buah kipas tersebut.

Akhirnya Rangkang Karangan pun menerima kipas itu dengan perasaan kecewa lalu segera berlari pulang. Setibanya di rumah ia sangat heran melihat ayahnya yang tadi sakit kini dengan santainya berjalan hilir-mudik di depan rumah.

"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Rangkang Karangan dengan rasa heran.

"Sudah sembuh," sahut ayahnya.

Rangkang benar-benar merasa heran dengan kejadian tersebut, lalu menceritakan apa yang terjadi ketika berjumpa Nyai Jaya Sangiang di Batu Nindan tadi.

"Nyai Jaya Sangiang tadi berpesan agar mengipasi ayah dengan kedua kipas ini apabila ayah masih sakit," ujar Rangkang sambil memperlihatkan kipas pemberian Nyai Jaya Sangiang tersebut.

"Kalau begitu, kipaslah ayahmu ini," kata Raja Sangiang kepada Rangkang.

"Ayah kan sudah sembuh, untuk apa lagi mengipasi ayah dengan kipas ini. Kipas ini sudah tidak berguna lagi," sahut Rangkang sambil melemparkan kedua kipas itu keluar melalui pintu depan.

Anehnya kedua kipas yang dilemparkan tadi melayang dan membumbung tinggi ke langit lalu tiba-tiba berubah menjadi dua ekor burung besar, seekor jantan dan seekor betina. Dua ekor burung itu terbang makin tinggi ke langit menuju kediaman para dewata dan akhirnya hinggap pada puncak sebuah pohon bernama Pampang Saribu yang berada di Bukit Ngantung Gandang Kereng Hapalangka Langit, kediaman Putir Selong Tamanang.


Legenda Asal Mula Burung Elang Menurut Mitologi Suku Dayak Ngaju


Sambil bertenger di puncak pohon kedua burung itu menyanyikan syair pantun bersahut-sahutan, yang demikian bunyinya : "Alangkah senangnya kita berdua bisa beristirahat di puncak pohon yang berdahan seribu."

Nyanyian itu terdengar oleh Ranying Hatalla, "Alangkah merdunya suara itu. Suara apakah itu Putir Selong Tamanang?" tanya Ranying Hatalla kepada Putir Selong Tamanang.

"Itu suara burung," jawab Putir Selong Tamanang.

"Burung apakah namanya?" kembali Ranying Hatalla bertanya.

Lalu Putir Selong Tamanang menjelaskan kepada Ranying Hatalla bahwa kedua ekor burung itu baru saja tiba di kediamannya di Bukit Ngantung Gandang Kereng Hapalangka Langit dan ia belum mengetahui nama burung itu.

"Jika demikian maka burung yang jantan kuberi nama Antang Tandurung Nyahu Kenyuy Napatah Tandak, sedangkan yang betina kuberi nama Putir Bawin Antang. Dan sejak saat ini keduanya kuijinkan untuk tinggal di taman bagian selatan yaitu Balai Pating Garing Nabasan Riwut Sali Bumbung Sihung Katalapan!" kata Ranying Hatalla.

Demikianlah kedua Antang (elang) itu menjadi milik Ranying Hatalla dan tinggal bersamanya di taman tersebut, keturunan kedua elang inilah yang kelak menjadi nenek moyang burung elang yang ada di dunia.


Sumber :
  • Lambertus Elbaar, Achyar Ahmad, Toenika J. Bahen. 1982. "Asal Mula Burung Elang". Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Tengah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. (hal. 38 - 40)
Read more

2016/05/18

Kisah Pangantuhu Keramat Penjaga Desa Mangkatip

Mangkatip adalah sebuah desa (kelurahan) yang berada di tepi sungai Barito, termasuk dalam wilayah kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Di desa ini terdapat sebuah benda keramat dan  bersejarah peninggalan leluhur orang Mangkatip yang dipercaya memiliki kekuatan gaib sebagai pelindung desa dari bahaya, kepercayaan ini telah berlangsung sejak jaman kolonial Belanda hingga sekarang.

Kisah Pangantuhu Keramat Penjaga Desa Mangkatip

"Pancantoho Patjaka Dayak Badjajo" (dibaca: Pangantuhu Pusaka Dayak Bajaju) demikian nama benda keramat tersebut, yang dipercaya merupakan sisa "sampung jukung" atau kepingan/serpihan perahu Raja Banjar pertama yang masih beragama Kaharingan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pusaka ini didiami oleh roh gaib yang bisa diminta bantuannya untuk menjaga desa Mangkatip dari segala macam bahaya. Sebagaimana kisah turun-termurun sejak jaman dahulu, benda keramat berupa sumpung jukung raja Banjar ini awalnya ditemukan oleh warga yang menjala ikan.

Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang nelayan dari Mangkatip yang pergi menjala ikan di sekitar Tanjung Paku (sebelah hulu Janamas) menggunakan jukung (sampan), ketika sedang asik menjala ikan tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara tangisan anak kecil. Maka ia pun menghentikan aktifitasnya lalu berusaha mencari sumber suara tangisan tadi, namun tidak menemukan apa-apa. Maka ia pun bergegas pulang ke Mangkatip dan menceritakan kejadian tersebut kepada warga.

Pada keesokan harinya, ditemani empat orang saudaranya mereka kembali ke lokasi dimana suara tangis misterius itu terdengar. Setibanya di lokasi yang dimaksud suara tangis pun kembali terdengar oleh keempat orang itu. Lalu mereka berusaha mencari dari mana asal suara tangisan tadi dan ternyata suara tangis itu bersumber dari potongan haluan sebuah perahu yang nampaknya telah terbakar. Kemudian mereka sepakat membawa benda temuan mereka itu pulang ke desa. Begitu tiba di desa lalu benda tersebut diletakan di bawah pohon kapuk jangkung (hingga kini pohon kapuk tersebut masih ada di tengah desa), lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.

Malam harinya, salah seorang dari empat bersaudara itu bermimpi, dalam mimpinya ia didatangai oleh roh gaib yang mendiami potongan haluan perahu yang mereka temukan di Tanjung Paku. Roh gaib itu berkata, "Aku adalah penunggu potongan haluan perahu milik orang Karuis, aku berniat untuk tinggal di desa ini dan membantu menjaga desa dari segala bahaya karena aku mengasihi kalian yang telah sudi memungut dan membawaku ke desa ini". Roh gaib itu juga minta dibuatkan sebuah rumah untuk meletakan potongan haluan perahu yang juga sebagai tempat tinggal roh gaib itu. Dan jika suatu saat ingin memindahkannya maka tidak boleh dipindahkan ke arah hilir sungai, melainkan ke arah hulu.

Keesokan harinya, orang yang bermimpi tadi menceritakan pesan-pesan orang gaib itu kepada seluruh warga desa Mangkatip. Maka dibuatlah rumah bagi sumpung jukung atau potongan haluan perahu yang kemudian dikenal dengan sebutan Pancantoho Patjaka Dayak Badjajo atau Pangantuhu.

Semula yang bertugas menjaga keramat Pangantuhu adalah empat bersaudara yang menemukannya di Tanjung Paku, namun ketika perang melawan penjajah Belanda yang dikenal sebagai "Perang Kasintu Kuluk Barito" meletus mereka berempat ikut pergi berperang dan hingga kini tidak ada yang mengetahui kabar beritanya.

Selanjutnya dipilihlah seorang yang bertugas menjaga Pangantuhu bernama Pantau yang terkenal dengan sebutan Bue Janggut (kakek berjenggot). Setelah Bue Janggut meninggal, Pangantuhu dipindahkan ke bagian hulu desa Mangkatip dengan menggelar ritual adat. Kemudian terpilihlah seorang wanita bernama Indu Burui (indu = ibu, Burui = nama anak, masyarakat suku Dayak umumnya menganut Teknonimi yaitu pemberian nama kepada ayah atau ibu berdasarkan nama anaknya) sebagai penjaga atau juru kunci Pangantuhu.

Ketika rumah tempat meletakan Pangantuhu mulai rusak, maka pada tanggal 20 Januari 1987 Pangantuhu dipindahkan kembali ke bagian hulu desa Mangkatip (sekarang lokasinya berada di dekat kantor Kelurahan Mangkatip). Dan hingga sekarang yang menjadi juru kuncinya adalah seorang yang bernama Duyan Lihun yang akrab dipanggil Pa An atau Bapa An (lihat tentang Teknonimi di atas).

Ketika Bapa An yang menjadi juru kunci inilah ada suatu kejadian yang membuat semua warga heran. Konon diceritakan ada seorang wanita bernama Lamsiah dari Banua datang ke Mangkatip untuk menemui juru kunci Pangantuhu. Kepada Bapa An sang juru kunci wanita itu menceritakan bahwa dirinya adalah keturunan dari nelayan yang menemukan sampung jukung asal mula Pangantuhu tersebut. Ia datang karena ingin memceritakan isi mimpinnya yaitu dari perut sampung jukung keluar sejenis getah yang harus ditampung menggunakan Piring Malawen (piring keramik cina kuno). Jika ditampung menggunakan piring Malawen maka getah itu nantinya akan berubah menjadi batu.

Pancantoho Patjaka Dayak Badjajo atau Pangantuhu ini juga memiliki gelar atau nama panggilan lain yaitu Datu Kayu Melai Huma Bahenda. Hingga kini banyak orang yang berdatangan ke desa Mangkatip mengunjungi Pangantuhu dan bagi yang percaya maka kedatangannya juga diiringi harapan (hajat) tertentu atau bisa juga datang untuk meminta kesembuhan atas penyakit yang tidak bisa diobati lagi secara medis.


Sumber :
  • http://barselpromo.blogspot.co.id/2010/07/kisah-pancantoho-lewu-mangkatip-basa.html


Read more

2016/05/08

Kisah Bandar dan Sumbu Kurung

Kisah Bandar dan Sumbu Kurung

Pada jaman dahulu tersebutlah sebuah kampung yang bernama Tanjung Bereng Kalingu yang dikepalai oleh seorang Dambung. Kampung itu  berada di tepi sungai Kahayan.

Pada buku yang menjadi referensi kisah ini menyebutkan bahwa Tanjung Bereng Kalingu sekarang bernama desa Garung, namun jika memperhatikan data desa yang ada di Kabupaten Pulang Pisau, dari sembilan puluh satu desa definitif dan satu desa persiapan terdapat satu nama yang mirip dengan nama kampung pada kisah ini, yaitu Kelurahan Bereng Kalingu. (Update@10-05-2016)

Di bawah pimpinan Dambung pada masa itu kampung Tanjung Bereng Kalingu terkenal sebagai kampung yang maju. Masyarakatnya sudah majemuk dalam hal keyakinan namun tetap bersatu dalam kerukunan, hidup sejahtera dan berkecukupan.

Pada suatu hari, Dambung yang hingga saat itu belum memiliki keturunan mengadakan pesta untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dianugrahi anak melalui perantaraan Jatta Nyai Kambang yang tinggal di pulau Linggang Goyang. Bermacam jenis sesajen dipersembahkan, begitu juga persembahan lainnya berupa kerbau berekor emas dan bangunan beratap ringgit.

Permohonan Dambung akhirnya dikabulkan, isteri Dambung akhirnya mengandung dan kemudian melahirkan seorang puteri yang diberi nama "Sumbu Kurung Putok Bulau Marisau Hampatung Intan Anak Nakan". Sebagai wujud rasa syukur Dambung kemudian mengadakan pesta besar selama tujuh hari tujuh malam, dengan mengundang seluruh kampung yang ada di sekitar kampung Tanjung Bereng Kalingu.

Belasan tahun berlalu, Sumbu Kurung Putok Bulau Marisau Hampatung Intan Anak Nakan yang sehari-hari dipanggil Sumbu Kurung pun tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik parasnya. Berita kecantikannya tersiar kemana-mana, oleh karenanya banyak para bangsawan yang kaya-raya datang untuk melamar Sumbu Kurung, diantaranya : Tunggal Runjang dari Benteng Kahayan, Tunggal Mambu dari Upon Batu, Tunggal Rasau dari Bukit Kaminting dan Tunggal Iman dari Batu Mapan.

Tidak tanggung-tanggung, para bangsawan ini datang dengan membawa harta kekayaan yang melimpah untuk dipersembahkan kepada Sumbu Kurung sebagai mas kawin. Namun semua lamaran itu ditolak oleh Sumbu Kurung dengan alasan ia belum siap berumah tangga. Bujuk rayu ayahnya Dambung dan ibunya tidak dapat mengubah pendirian Sumbu Kurung, ia tetap menolak semua lamaran yang datang, sehingga para bangsawan ini pun pulang dengan perasaan kecewa.

Tidak lama berselang datanglah Raja Ginjal Tanah Betawi dengan menggunakan sebuah kapal yang sangat besar dan megah bermuatan bermacam barang berharga dari Tanah Laut. Tujuannya adalah untuk meminang Sumbu Kurung bagi Putera Mahkotanya. Namun lagi-lagi lamaran ditolak dengan alasan yang sama.

Dambung menjadi sangat bingung dengan keputusan puterinya Sumbu Kurung, jangankan para bangsawan lokal, putera mahkota seorang raja pun ditolak lamarannya. Hal itu membuatnya malu, frustasi dan marah, lalu timbullah niatnya untuk mengasingkan Sumbu Kurung ke sebuah tempat terpencil yaitu Danau Layang. Untuk melaksanakan niatnya, Dambung kemudian mendirikan sebuah pondok di Danau Layang sebagai tempat Sumbu Kurung tinggal.

Setelah pondok dan perbekalan untuk bertahan hidup siap, Dambung lalu mengantar Sumbu Kurung ke Danau Layang untuk menjalani pengasingan. Walau hatinya sedih, Sumbu Kurung menerima kenyataan itu dengan tabah dan tenang.

Sejak saat itu tinggallah Sumbu Kurung seorang diri di tengah rimba belantara di tepi Danau Layang itu. Dalam menjalani pengasingan Sumbu Kurung merubah penampilannya dan identitasnya menjadi seorang laki-laki dan mengganti namanya menjadi Tunggal Hanjungan.

Keseharian Sumbu Kurung yang menyamar sebagai laki-laki bernama Tunggal Hanjungan pun tidak berbeda dengan keseharian para lelaki Dayak Ngaju pada umumnya. Ia mampu bekerja berat membuka ladang dan berkebun serta terampil berburu di hutan. Tidak seorangpun yang tahu bahwa Tunggal Hanjungan sebenarnya seorang puteri bangsawan dari Tanjung Bereng Kalingu yang termasyur.

Hingga pada suatu hari ada seorang pemuda yang gagah perkasa bernama Bandar dari kampung Luwuk Dalam Betawi - sekarang bernama Desa Buntoi (Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah) - yang datang ke sekitar Danau Layang untuk berburu. Bandar adalah putera dari Tamanggung Kepala Luwuk Dalam Betawi yang terkenal memiliki kegemaran berburu. Tidak jarang selama berhari-hari Bandar tinggal di hutan untuk berburu.

Bandar sangat heran melihat ada sebuah pondok di tepi Danau Layang yang sepi, lalu ia memutuskan untuk singgah di pondok itu. Kedatangan Bandar disambut baik oleh Tunggal Hanjungan dan mempersilakannya beristirahat di dalam pondok.

Mereka pun saling berbagi pengalaman dalam berburu, hal itu membuat mereka semakin akrab satu sama lainnya. Setelah beberapa hari tinggal di pondok sahabat barunya, Bandar memutuskan untuk pulang dan berjanji akan selalu mengunjungi Tunggal Hanjungan jika ada kesempatan.

Demikianlah selanjutnya setiap kali Bandar pergi berburu maka ia akan menyempatkan diri untuk mampir dan menginap di pondok Tunggal Hanjungan. Karena begitu seringnya Bandar menginap di pondok Tunggal Hanjungan, maka mulai tahulah Bandar bahwa Tunggal Hanjungan ternyata seorang gadis yang cantik, namun ia mendiamkan hal itu dan tetap menghormati Tunggal Hanjungan sebagai sahabatnya.

Adapun ayah Bandar, Tamanggung Merata Pati yang merupakan kepala kampung Luwuk Dalam Betawi mulai risau melihat kebiasaan Bandar yang setiap hari pergi berburu. Ia berkeinginan agar Bandar mulai mempersiapkan diri sebagai penggantinya kelak dan mengurangi kegemarannya berburu. Untuk itu ia bermaksud mengawinkan Bandar dengan seorang gadis yang bernama Sumbu Kurung Pure-Pure Pandang Kilat Intan Kundum Pancar.

Lamaran pun dilakukan oleh Tamanggung Merata Pati bagi puteranya Bandar. Dan orang tua Sumbu Kurung Pure-Pure Pandang Kilat Intan Kundum Pancar pun menerima lamaran tersebut. Maka ditentukanlah hari perkawinan yang akan dilaksanakan secara besar-besaran.

Pada hari yang telah ditetapkan, perkawinan Bandar pun dilaksanakan. Seluruh warga bergembira menyaksikan dan memeriahkan pesta perkawinan itu. Namun, perkawinan yang harusnya merupakan peristiwa bahagia bagi Bandar dan isterinya tidaklah berlaku bagi Bandar. Setelah acara perkawinan selesai Bandar tidak tidur bersama isterinya, karena sesungguhnya Bandar tidak mencintai perempuan pilihan ayahnya itu.

Pernikahan itu ternyata tidak bisa menghentikan kebiasaan Bandar untuk pergi berburu. Setelah lewat masa "pali" pengantin, Bandar kembali melakukan kebiasaannya pergi berburu dan mengunjungi sahabatnya Tunggal Hanjungan di Danau Layang.

Bandar tidak dapat memungkiri kata hatinya bahwa sebenarnya ia telah jatuh cinta kepada Tunggal Hanjungan sejak mengetahui bahwa Tunggal Hanjungan adalah seorang gadis yang menyamar menjadi laki-laki.

Kemudian pada suatu malam, Dambung Kepala Tanjung Bereng Kalingu bermimpi dijumpai oleh seorang perempuan Pampahilep (makhluk halus berwujud perempuan) yang menyuruhnya menjemput kembali puterinya Sumbu Kurung Putok Bulau Marisau Hampatung Intan Anak Nakan dari Danau Layang dan mengawinkannya dengan seorang laki-laki bernama Bandar dari Luwuk Dalam Betawi.

Keesokan harinya karena khawatir terjadi sesuatu pada puterinya, Dambung Kepala Tanjung Bereng Kalingu segera berangkat menjemput Sumbu Kurung ke Danau Layang. Setibanya di Danau Layang Dambung mendapati puterinya dalam keadaan baik-baik saja ditemani seorang laki-laki yang tidak lain adalah Bandar. Bandar kemudian memperkenalkan diri kepada Dambung dan menyatakan niat untuk mempersunting Tunggal Hanjungan yang baru diketahuinya ternyata bernama Sumbu Kurung Putok Bulau Marisau Hampatung Intan Anak Nakan menjadi isterinya.

Dambung Kepala Tanjung Bereng Kalingu pun setuju, kemudian Bandar dan Sumbu Kurung dibawanya pulang ke Tanjung Bereng Kalingu untuk melangsungkan pesta perkawinan mereka. Demikianlah akhirnya Sumbu Kurung Putok Bulau Marisau Hampatung Intan Anak Nakan menemukan jodohnya, hidup bahagia, saling mecintai bersama suaminya Bandar.


Sumber :
  • Lambertus Elbaar, Achyar Ahmad, Toenika J. Bahen. 1982. "Tunggal Hanjungan". Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Tengah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. (hal. 49 - 52)
Read more

2016/05/05

Takluknya Raja Madura oleh Mambang dari Manen Paduran

Kisah ini bermula di sebuah kampung di tepi sungai Kahayan yang bernama Manen Paduran. Alkisah pada jaman dahulu ada seorang pemuda bernama Mambang yang merupakan putera sulung Tamanggung Baya yang terkenal gagah dan berani sebagai pemimpin di kampung Manen Paduran. Tamanggung Baya meninggal dunia ketika Mambang mulai beranjak dewasa.

Sepeninggal ayahnya, Mambang menyadari bahwa kepemimpinan di Manen Paduran merupakan tanggung jawabnya sebagai anak sulung Tamanggung Baya yang terkenal dan disegani sebagai pemimpin. Mambang berkeinginan agar tongkat estafet kepemimpinan dan kebangsawanan ayahnya tidak jatuh ke tangan orang lain. Oleh karena itu Mambang bertekad mempopulerkan dirinya di hadapan masyarakat kampung Manen Paduran dengan memperlihatkan kekuatan, keberanian serta ide cemerlangnya agar diakui sebagai pengganti ayahnya.

Denga restu ibunya Mambang berangkat ke hulu sungai Kahayan mengumpulkan kayu ulin untuk mendirikan sebuah Betang yang besar dan megah sebagai mahakarya yang akan dipamerkannya kepada masyarakat Manen Paduran kelak. Setelah beberapa bulan lamanya berada di daerah hulu sungai Kahayan, Mambang akhirnya berhasil mengumpulkan ribuan potong kayu ulin yang siap untuk dimilirkan dengan rakit menuju kampung Manen Paduran.

Setibanya di Manen Paduran, Mambang memimpin penduduk desanya bergotong royong membangun betang impiannya. Sementara itu para jipen (budak) dan pelayannya ditugaskan untuk membuka ladang yang luas dan menanaminya dengan padi serta tanaman pangan lainnya. Ketika betang selesai dibangun musim panen pun tiba, masyarakat Manen Paduran merasa senang dengan berdirinya betang baru yang megah berbarengan dengan panen raya yang melimpah.

Sukses membangun betang dan menjamin ketersediaan pangan bagi warganya, Mambang merasa masih ada satu tanggung jawab besar yang belum ia tunaikan, untuk itu ia segera mempersiapkan upacara Tiwah bagi mendiang ayahnya Tamanggung Baya. Upacara Tiwah kemudian dilaksanakan dengan memotong puluhan ekor sapi, kerbau dan babi.

Usaha Mambang untuk membuktikan bahwa dirinya layak sebagai pengganti ayahnya berhasil. Namun ia tidak langsung berpuas diri, usaha pertanian dan peternakan semakin digiatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Mambang juga membangun fasilitas penempa besi untuk membuat berbagai senjata dan alat pertanian. Namun ia lebih fokus membuat duhung pusaka bertatah intan pesanan para tamanggung dari kampung sekitarnya. Hal ini dilakukan untuk mempopulerkan dirinya di kalangan bangsawan di sepanjang sungai Kahayan. Demikianlah pada akhirnya Mambang lebih sering bekerja di penempaan besinya.

Pada suatu hari Mambang menyadari ada yang aneh pada api bubutan di penempaan besi miliknya. Api bubutan selalu padam dan arangnya berhamburan kemana-mana. Hal ini membuatnya gusar dan bertanya-tanya apa penyebabnya. Maka Mambang pun berencana untuk bersembunyi di penempaan besinya di malam hari untuk mengintai apa yang terjadi pada api bubutan yang selalu padam.

Malam pun tiba, Mambang telah berada di posisinya untuk mengintai apa yang terjadi. Tidak berapa lama kemudian, Mambang melihat seorang gadis cantik keluar dari dalam sungai lalu memadamkan api bubutan itu. Seketika itu juga Mambang meloncat keluar dari persembunyiannya lalu menangkap gadis itu. Gadis itu berteriak meminta ampun dan minta dilepaskan.

Mambang lalu berkata kepada gadis itu, "Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu telah menggangu perapian bubutan miliku, kamu harus menebus kesalahanmu dengan menjadi isteriku!"

Gadis itu lalu menyahut, "Bagaimana mungkin kita berdua dapat hidup bersama? Aku ini Bawin Jatta (anak gadis Jatta penguasa alam bawah) yang tinggal di alam bawah, bukan manusia seperti engkau."

Mambang tetap bersikeras, "Aku tidak peduli kamu Bawin Jatta, siluman atau apapun, karena kamu sudah menjelma dalam wujud manusia seperti ini maka aku tetap akan mengawinimu. Ayo ikut pulang ke rumahku!" Gadis itu pun akhirnya menuruti keinginan Mambang, lalu mereka bersama-sama pulang ke rumah Mambang.

Akhirnya Mambang mengawini gadis Jatta itu secara resmi menurut tata cara adat suku Dayak Ngaju. Dengan menikahnya Mambang, maka lengkaplah sudah persyaratan yang harus dipenuhi Mambang untuk menjadi seorang Tamanggung, suatu gelar kebangsawanan bagi pemimpin kampung. Mambang pun menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana.

Hingga pada suatu hari, warga kampung Manen Paduran diserang oleh wabah penyakit menular yang mematikan, korban meninggal dunia pun berjatuhan. Lalu tersebarlah kabar burung bahwa wabah yang menimpa warga Manen Paduran disebabkan oleh kehadiran isteri Mambang yang adalah mahkluk alam bawah.

Desas-desus kabar burung itu akhirnya sampai ke telinga isteri Mambang, ia menjadi sangat tersinggung dan sedih mendengar tundingan itu. Menyikapi situasi itu maka Mambang berinisiatif pindah ke lokasi yang cukup jauh di belakang kampung Manen Paduran di tepi sebuah danau. Lokasi ini di kemudian hari dikenal sebagai "Kaleka Labehu Bunter".

Sambil berladang Mambang membuat sebuah "Banama" (bahtera) yang terbuat dari kayu sungkai pilihan. Lima tahun lamanya Banama berikut "Tatas" (jalur keluar Banama berupa parit lebar dan dalam) menuju ke sungai Kahayan dikerjakan Mambang seorang diri.

Kini Banama itu telah siap, selanjutnya Mambang mengangkut barang-barang untuk keperluan mereka di perjalanan. Setelah semua barang masuk ke dalam Banama, lalu anggota keluarga Mambang pun menyusul masuk ke dalam Banama, dan Banama siap untuk berangkat. Sebelum melepas tali tambat Banama, Mambang kembali ke pondok untuk memeriksa kembali jika ada barang yang tertinggal. Tidak lama kemudian ia keluar dari pondok sambil membawa ayam jantan kesayangannya, melepas tali tambat lalu melompat ke atas Banama dan memulai perjalanan mereka.

Banama pun perlahan bergerak keluar menyusuri tatas yang dibuatnya menuju sungai Kahayan. Setibanya di sungai Kahayan, Mambang membelokkan Banamanya ke arah hilir dan mulai mengarungi sungai Kahayan menuju ke muara dan keluar ke laut.

Setelah terkatung-katung di laut selama hampir satu bulan, akhirnya menjelang fajar terlihatlah daratan yang nampaknya berpenghuni. Ayam jantan Mambang lalu berkokok dengan lantang ketika Banama itu menyentuh bibir pantai pulau yang belakangan baru mereka ketahui bernama Pulau Madura.

Takluknya Raja Madura oleh Mambang dari Manen Paduran

Tidak lama berselang, datanglah beberapa orang bersenjata tombak dan clurit yang memperkenalkan diri sebagai pengawal raja yang berkuasa di pulau itu. Mereka menyampaikan bahwa kedatangan Mambang dengan Banamanya telah diketahui raja mereka. Kokok ayam jantan Mambang tadi dianggap sebagai tantangan oleh raja yang gemar menyabung ayam itu, ia penasaran dan ingin mengadu ayam jantan miliknya dengan ayam milik Mambang. Dan jika menolak maka dianggap menentang perintah raja.

Lalu dengan hati-hati Mambang menyampaikan bahwa kedatangannya bukan untuk menyabung ayam atau menantang siapapun, ia hanya ingin memulai kehidupannya yang baru dan mencoba peruntungannya di pulau itu.

Mambang lalu memegang ayamnya sambil berkata, "Jika karena ayamku ini, kedatangan kami di pulau ini dianggap menantang raja, maka lebih baik ayam ini aku potong dan dimakan saja."

Salah seorang pengawal raja mendekat dan memegang tangan Mambang sambil berkata, "Jangan kau potong ayammu orang asing! Siapa tahu nasibmu beruntung bisa mengalahkan ayam milik raja sekaligus mengalahkan sang raja di pertarungan nanti."

"Lagipula kamu tidak memiliki pilihan lain selain memenuhi permintaan sang raja. Ketahuilah orang asing, jika ayammu menang maka raja akan menantangmu bertarung sampai mati, jika ayammu kalah maka ayammu akan dibunuh lalu harta bendamu dirampas, jika kamu menolak mengadu ayammu maka kamu dan keluargamu akan dijadikan budak, harta bendamu dirampas. Bersiaplah, besok pagi kami akan menjemputmu," lanjut pengawal tadi sambil berlalu meninggalkan Mambang yang berdiri kebingungan.

Mambang kembali ke atas Banama lalu menceritakan apa yang terjadi kepada isterinya. Mambang merasa sedih dan bersalah telah membawa keluarganya dalam masalah ini. Namun dengan tenang isterinya berkata, "Jangan khawatir kanda, bukankah kanda ini seorang menantu Jatta, dewa penguasa alam bawah. Pasti ayahanda akan membantu kita menghadapi masalah ini. Terima saja tantangan raja di pulau ini, aku akan berbicara dengan ayahanda meminta petunjuk."

Keesokan hari Mambang telah bersiap menanti kedatangan para pengawal raja yang akan menjemputnya. Ketika para pengawal itu datang, isterinya menghampiri Mambang sambil menyerahkan sebilah "Duhung" dengang gagang gading lengkap dengan sarung yang terbuat dari perak.

"Ayahanda Jatta menitipkan Duhung ini untuk kanda. Yakinlah kanda!" bisik isterinya kepada Mambang.

"Baiklah, aku berangkat isteriku," ucap Mambang dengan bersemangat, lalu menyelipkan duhung itu di perut, kemudian berjalan sambil memeluk ayam jantannya mengikuti para pengawal yang menjemputnya.

Akhirnya mereka tiba di lingkungan istana raja, tampak oleh Mambang arena sabung ayam telah disiapkan di tengah halaman yang luas. Orang-orang pun ramai berkumpul ingin menyaksikan acara tersebut.

Singkat cerita sabung ayam pun dimulai. Ayam sang raja terlihat agresif memulai serangan, namun dengan cerdik ayam milik Mambang menyongsong serangan itu dengan menyabetkan tajinya ke arah mata ayam milik raja. Serangan pada mata tadi mengakibatkan ayam sang raja tidak dapat melihat, maka dengan bertubi-tubi ayam milik Mambang melakukan serangan, menancapkan tajinya berkali-kali di leher ayam raja. Ayam milik raja kemudian terkulai lemas dan mati di tengah arena.

Seketika raja berdiri dengan wajah memerah menahah marah lalu berjalan mendekati Mambang sambil menatapnya dengan tajam.

"Baiklah orang asing ayammu telah memenangkan aduan, sekarang giliran kita untuk bertarung sampai mati di dalam lubang itu!" ujar raja sambil menunjuk pada sebuah sumur tua yang telah kering di halaman istana itu. Lalu ia mengajak Mambang mendekati sumur tua yang berdiameter lebih kurang satu meter setinggi bahu orang dewasa.

Sesaat sebelum melompat ke dalam lubang sumur kering itu raja kembali berucap, "Kalian semua yang hadir di sini dengarkan! Jika aku yang keluar dari sumur ini dalam keadaan hidup maka harta benda orang asing ini akan menjadi milikku dan keluarganya akan menjadi budak ku. Dan, jika orang asing ini yang keluar dalam keadaan hidup maka dia berhak atas kerajaanku, harta benda dan budak-budak ku."

Lalu raja dan Mambang masuk ke dalam sumur itu, berdiri saling berhadap-hadapan. Raja kembali berkata, "Katakan jika kau sudah siap orang asing." Mambang yang sejak tadi hanya diam saja menjawab, "Aku siap raja."

Seketika itu juga raja berusaha mencabut clurit yang terselip di pinggangnya namun mengalami kesulitan karena sikutnya membentur dinding sumur yang sempit. Berulang kali mencoba namun selalu gagal menarik senjatanya itu. Lalu dengan tenang Mambang mencabut duhung yang terselip di perutnya dan mengangkatnya perlahan. Ketika ujung duhung yang tajam tepat berada di depan perut raja, Mambang kemudian menghujamkan duhung itu sambil merapatkan dirinya ke tubuh sang raja. Raja itu kemudian terkulai lemas dan tewas seketika.

Tiba-tiba orang banyak yang menonton pertarungan itu bersorak sorai kegirangan mengerumuni lubang sumur itu. Seorang pengawal mengulurkan tangannya kepada Mambang membantunya naik ke atas. Mambang mengenali pengawal itu sebagai orang yang menahan tangannya ketika ingin memotong ayamnya saat di pantai sehari yang lalu.

Setelah Mambang telah keluar dari sumur dan berdiri di hadapan orang banyak, pengawal yang membantunya naik tadi menjatuhkan diri dan berlutut memberi hormat diikuti semua orang yang hadir, kemudian pengawal itu berkata, "Dewata telah mengabulkan doa kami melalui perantaraan orang asing dari tanah seberang. Terima kasih telah membebaskan kami dari penindasan raja yang kejam."

Akhirnya Mambang diangkat menjadi raja di pulau yang baru diketahuinya bernama Pulau Madura. Aturan lama tentang sabung ayam yang dibuat sekehendak hati raja yang dulu dihapus, semua orang boleh memelihara ayam jantan dan bebas menyabung ayam tanpa paksaan. Semua budak milik raja yang dahulu dibebaskan. Mambang memerintah dengan adil dan bijaksana hingga akhir hayatnya.

***

Kini keturunan Mambang telah membaur dengan penduduk asli Pulau Madura. Namun ada ciri khusus yang menandakan bahwa mereka adalah keturunan Raja Mambang dari Manen Paduran, yaitu kaum laki-lakinya bertindik di salah satu daun telinganya, dan kaum perempuannya memakai gelang di kaki.

Beberapa sumber mengatakan bahwa bekas terdamparnya Banama Mambang di Pulau Madura hingga kini masih dapat dilihat berupa sebuah batu besar berbentuk sepotong sabut kelapa yang berada di Pantai Nipah, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura. Namun penulis belum bisa memastikan kebenaranya karena keterbatasan sumber dan referensi.

Sedangkan lokasi pembuatan Banama yang digunakan Mambang berlayar menuju Pulau Madura dapat ditemukan di belakang desa Manen Paduran (sekarang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah), di tepi danau berupa bekas galian sepanjang 34 meter, lebar 10 meter dengan kedalaman 2 meter, di sekitarnya dapat dijumpai potongan dan serpihan kayu Sungkai yang telah mengeras seperti batu.


Sumber :
  • Lambertus Elbaar, Achyar Ahmad, Toenika J. Bahen. 1982. "Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Tengah". Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. (hal. 53 - 56)
  • http://ceritagwonk.blogspot.co.id/



Read more